Categories
leadership self development

Minimalisme

Awal Mengenal Konsep Minimalisme

Kata yang beberapa kali menggelitik pikiran saya akhir-akhir ini. Mulai dari baca cara merapikan a la Marie Kondo, beberapa kali saya penasaran dengan minimalisme. Sebagai perkenalan konsep minimalisme ini cukup gencar di kalangan warga Jepang.

Hedonisme dan konsumerisme menjadi sorotan gaya hidup yang menjamur di feed-feed media sosial yang cukup melelahkan bagi sebagian orang. Sebagai penawar dari hiruk pikuk likes dan story instagram yang cukup padat perlu suatu hal-hal yang clean dan minimal sehingga pikiran kita mampu bernafas lebih lega.

Minimalisme mencoba menjawab kegalauan sebagian orang tersebut dengan menawarkan kesederhanaan dalam berpenampilan, bersikap, dan berpikir. Mendinginkan jiwa sehingga lebih jernih dalam mengambil keputusan karena tidak bias dengan berbagai urusan yang berlalu lintas di pikiran.

Video ini mungkin memberikan gambaran tentang apa konsep minimalisme tersebut. Namun jangan langsung memberikan penilaian bahwa konsep minimalisme yang saya ceritakan sama plek dengan video ini ya.

Berawal dari video tersebut saya mulai mencari tahu dan mulai menerapkan minimalisme dengan menginventarisasi barang-barang yang saya miliki di kontrakan. Saya cek untuk baju saya butuh cukup berapa, untuk piring, gelas dan sebagainya. Beberapa kaos kantor saya sumbangkan meskipun cukup saya suka karena memang jarang saya pakai. Kemudian saya dan istripun mulai berkomitmen untuk tidak memajang aksesoris di rumah kontrakan. Kebetulan istri juga sepakat dengan konsep minimalisme ini.

Dalam pikiran saya minimalisme dapat diterapkan di berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari.

Minimalisme Barang

Dari sub-heading di atas sudah barang tentu menjelaskan definisi awal minimalisme. Mengurangi barang bukan urusan yang gampang. Perang batin bisa jadi menjadi pertimbangan utama untuk memutuskannya. Coba kalian baca bukunya Marie Kondo deh. Bagi yang belum tahu siapa Marie Kondo coba liat video ini. Marie Kondo menggunakan metode Konmari untuk merapikan seluruh barang-barangnya.

Tips a la Marie Kondo bisa jadi memang harus dipaksakan. Membereskan barang bukan hal yang gampang bagi sebagian orang. Di dalam bukunya Marie Kondo barang yang bisa disimpan adalah barang memancarkan kebahagiaan (sparks joy). Hal ini bagi saya tidak berlaku karena bagi saya jika saya menyimpan barang dengan kenangan akan menimbulkan kesedihan jika memang dalam kenangan tersebut terdapat orang yang saya cintai namun sudah meninggal atau sedang jauh. Saya menghindari mendapati momen-momen tersebut. Alhasil barang-barang yang saya miliki sekarang jauh berkurang. Bahkan barang yang tidak saya gunakan sebulan terakhir saya singkirkan meskipun barang tersebut memang berguna tapi nyatanya tidak saya gunakan dan menghabiskan tempat. Beberapa barang saya simpan karena jika saya membeli baru memang harganya cukup mahal misal perkakas pertukangan, meskipun jarang saya gunakan namun cukup berguna jika saya membutuhkannya atau tetangga membutuhkan. Selebihnya saya berusaha tidak memiliki hobi mengkoleksi barang.

Konsekuensi Minimalisme Barang

Dengan membiasakan memiliki barang yang sedikit tentu saja memiliki beberapa konsekuensi positif. Ruangan rumah jadi lebih lega tidak berpikir untuk menghias rumah. Mungkin kesannya monoton ya tapi karena sudah terbiasa saya tidak terlalu memikirkannya karena rumah juga masih mengontrak. Untuk urusan pakaian juga sama. Saya memang orangnya tidak fashionable jadi memang tidak suka belanja. Ketika traveling atau pergi ke pusat perbelanjaan fokus saya dan istri membelikan barang-barang yang dibutuhkan Saudara untuk digunakan mereka. Keterikatan emosi dengan barang sedikit demi sedikit berkurang sehingga pikiran kita lebih lepas, lebih memikirkan hal yang lebih bermanfaat lebih jujur dan objektif dalam menilai sesuatu tanpa harus melibatkan sentimen pribadi dari suatu hal.

Minimalisme Informasi=Minimalisme Medsos

Pernah ngga merasakan suatu momen saat kepala pusing karena kelamaan lihat handphone. Ribuan pesan masuk dan arus informasi yang deras membuat kepala kita merasa jenuh dan akhirnya bingung mau berbuat apa untuk meredakan kejenuhan tersebut. Beberapa fenomena terkait hal itu yang saya highlight antara lain :

Fear of Missing Out

Ketakutan ngga update dengan peristiwa yang sedang hits sehingga terus menerus melihat medsos atau takut ketinggalan mengikuti tren terbaru.

Burn Out

Adalah istilah psikologi yang digunakan untuk menggambarkan perasaan kegagalan dan kelesuan akibat tuntutan yang terlalu membebankan tenaga dan kemampuan seseorang. Sederhananya terlalu ngoyo akhirnya merasa gagal dan capek pikiran.

Banyaknya arus informasi kadang membuat saya berpikir untuk menyederhanakan media sosial yang saya miliki. Mulai delete akun Facebook, Instagram, Twitter dan semuanya. Akhirnya aktivitas media sosial saya tumpah ke Youtube. Dengan mengurangi aktivitas media sosial membuat pikiran kita lebih lega tanpa harus memikirkan hal-hal yang seharusnya bukan menjadi fokus kita misalnya baca curhatan teman, debat politik, pesan berantai yang berisi hoax yang disebar senior namun kita segan untuk menegur dan sebagainya. Beberapa tahun terakhir WhatsApp menjadi primadona tempat berkumpul suatu komunitas. Coba kalian hitung berapa grup WhatsApp yang dimiliki dan berapa waktu yang diperlukan untuk membaca masing-masing grupnya. Nah saya pun akhirnya memutuskan untuk mute semua grup WhatsApp. Andaikata grup yang sangat penting saya membatasi hanya 2 grup saja yang bisa kirim notifikasi. Batasi hati untuk melihat aktivitas teman melalui medsos karena bagi saya yang 60% introvert 40% ekstrovert ini cukup membantu menjaga pikiran ini tetap waras.

Minimalisme Beban Kerja

Untuk mengurangi beban pikiran saya juga ingin menyelesaikan pekerjaan kantor secepat mungkin dengan tanpa mengabaikan kualitas pekerjaan. Ketika ada permasalahan atau challenge, biasakan untuk mencatat action plan yang akan dilakukan tanpa menundanya. Setiap pekerjaan yang tertunda akan menimbulkan beban pikiran di kemudian hari jadi biasakan untuk mencatat progressnya. Minimal dengan progress yang tercatat bisa menyenangkan pikiran kita. Cara meminimalkan kita berpikir terlalu berat adalah dengan sharing dengan teman-teman yang paham dengan pekerjaan. Dengan sharing kita bisa menemukan solusi lebih cepat tanpa menunggu kepala kita sakit tanpa ada jalan keluar dari masalah tersebut. Biasakan juga membantu rekan kerja dalam memecahkan masalah akan melatih kita menemukan learning key point dari suatu permasalahan. Selalu mencari hikmah dari permasalahan bagian dari pembelajaran yang tepat dan cepat sehingga kita tak perlu mengalami proses yang panjang untuk memecahkan suatu masalah. Minimalisme dalam bekerja adalah bagian dari proses kita menyederhanakan pekerjaan sesuatu dengan tips dan hacks yang cerdas.

Minimalisme Batin=Keeping Positive Vibes

Nobody is perfect

Itulah yang selalu kita tekan kan ketika pemikiran negatif menghinggapi kepala kita. Setiap orang selalu memiliki permasalahan bahkan orang yang kita anggap cukup perfect. Begitu pula dengan barang ataupun sistem dan keadaan. Setiap orang ingin diuntungkan dengan situasi apapun dan menimbulkan benturan kepentingan apabila keadaan berjalan tidak sempurna. Tingginya ekspektasi dan kurangnya memahami realita menimbulkan ketidakpuasan pada diri kita akan hal-hal yang kita hadapi sehari-hari. Sebagai ASN dan pelayan masyarakat anda mungkin pernah dikritik, dikomplain dan kadang menyakiti hati kita. Atau sebaliknya mungkin ekspektasi kita ke masyarakat terlalu tinggi. Kita berharap masyarakat paham aturan, tertib, terliterasi dengan baik namun tidak semuanya sama. Begitu pula dengan rekan kerja kita, tetangga kita, pemimpin kita, saudara kita dan sebagainya. Menempatkan kita sebagai orang yang memahami realitas akan menjadikan kita lebih bijak dalam berekspektasi dan menuntut hak kepentingan kita. Pemahaman ini membuat kita lebih berpikir strategis dan logis tentang cara mencari jalan keluar atau berkompromi tanpa menyinggung hati lawan bicara kita. Marah menghabiskan energi dan sesuatu yang spekulatif karena tujuan kita belum tentu tercapai namun bisa jadi menimbulkan luka jiwa yang tak berkesudahan. Minimalkan energi untuk pikiran dengan berikan jiwa asupan energi positif. Kadang kita perlu menyendiri ataupun sharing dengan orang yang kita percayai. Minimalkan beban pikiran kita sedini mungkin. Kadang kita perlu memberi jeda pada suatu masalah agar api kemarahan semakin kecil. Kadang kita perlu diam tanpa harus mengambil tindakan karena kekhilafan sering terjadi tanpa harus menunggu maaf dari kita.

Minimalisme Waktu

Waktu merupakan hal duniawi yang paling mahal yang kita miliki. Setiap orang mendapat jatah waktu yang sama. Yang membedakan adalah aktifitas yang kita lakukan untuk mengisi waktu tersebut. Minimalisme waktu adalah dampak dari minimalisme-minimalisme di atas. Menikmati waktu yang ada dengan lebih realistis, tanpa beban pikiran dan keterikatan emosi pada benda yang cukup menyita waktu kita. Dengan mempraktekkan minimalisme-minimalisme di atas tentunya akan banyak waktu luang yang bisa kita manfaatkan.

Investasi Waktu

Investasi waktu merupakan proses menghabiskan waktu dengan kegiatan bermanfaat bagi tujuan kita. Pada umumnya tujuan masing-masing orang adalah bahagia. Bahagia duniawi dan akhirati bagi orang Islam tentunya. Menikmati waktu dengan bahagia menjadi poin penting di sini dengan tanpa mengubah konsep minimalisme yang sudah disebutkan di atas. Untuk menyederhanakan konsep investasi waktu ini. Saya bagi menjadi beberapa kategori: investasi diri sendiri, investasi keluarga, investasi sosial.

Investasi Waktu untuk Diri Sendiri

Terus meluangkan waktu untuk upgrade diri adalah investasi waktu terbaik. Upgrade jiwa dan raga secara seimbang dan selaras sangat diperlukan saat ini. Upgrade jiwa dengan belajar banyak hal baik softskill dan hardskill, membangun koneksi, jangan lupa entertainment dan ibadah juga perlu. Upgrade raga dengan menjaga makan, istirahat, dan olahraga yang cukup menjadi hal yang harus dipaksa. Semoga saya bisa melakukan semuanya dengan baik.

Investasi Waktu untuk Keluarga

Dengan intensitas komunikasi yang diperingkas dengan konsep minimalisme sangat berguna sekali untuk meningkatkan komunikasi dengan istri dan anak. Keluarga adalah salah satu sumber kebahagiaan. Bersama mereka akan menjadi investasi waktu terbaik yang bisa kita pilih apalagi kita telah menerapkan berbagai minimalisme sehingga alokasi waktu dengan keluarga menjadi optimal dan lebih berkualitas.

Investasi Waktu untuk Sosial

Setelah memenuhi investasi waktu untuk diri sendiri dan keluarga mudah-mudahan membentuk pribadi kita menjadi lebih baik sehingga bisa menularkan semangat minimalisme dengan lingkungan sosial kita. Minimalisme barang diharapkan mengurangi jumlah sampah dan emisi global karena produksi barang yang melebihi kebutuhan. Minimalisme pikiran dan pekerjaan akan meningkatkan produktifitas dan positive vibes di lingkungan kerja kita.

Kesimpulan

Tetap diingat segala bentuk minimalisme hendaknya dilakukan sesuai batas kewajaran dan pastinya kita bisa mengukur batasnya sesuai dengan norma dan etika yang ada. Minimalisme tidak mendorong orang semakin pelit atau anti sosial tapi menjadikan orang lebih bijak memanfaatkan waktu dan pikirannya untuk hal yang lebih bermanfaat.

Design a site like this with WordPress.com
Get started