Categories
Uncategorized

Dompet Sehat dan Pikiran Waras Saat Corona

Saat ini memang situasi yang sangat sulit bagi semua orang, baik pengusaha maupun pegawai. Penting sekali menyiasati keuangan agar bisa survive. Turunnya penghasilan membuat kita mengencangkan ikat pinggang dan selalu berharap kapan saat-saat sulit ini segera berakhir.

Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan dompet kita dan menjaga pikiran kita tetap waras untuk bertahan dari krisis ini di antaranya:

  • Membuat Budget Plan

Penting sekali mencatat setiap pengeluaran yang kita lakukan diantaranya pengeluaran untuk makan untuk jajan untuk kebutuhan sehari-hari lainnya. Tujuannya adalah agar setiap pengeluaran itu sudah dipertimbangkan baik-baik.

Membuat budget plan yang baik dibuat sedetail mungkin.

Budget plan bisa dituangkan di kertas atau di aplikasi notes di HP. Style masing-masing orang dalam membuat plan bebas mau pakai excel juga bisa.

Inilah contoh budget plan yang biasa kami buat.

14 April 2020

Belanja 50

Listrik 100

Jajan 20

15 April

—–

Nanti di akhir pekan, pengeluaran tersebut dijumlahkan dan dievaluasi. Bagian apa yang bisa dikurangi atau disubstitusi (digantikan). Misalnya pada budget jajan di luar mungkin bisa digeser dengan berkreasi membuat makanan serupa sendiri di dapur. Selain hemat juga bisa jadi salah satu alternatif mengisi waktu luang saat stay at home.

Menyisihkan dana darurat juga diperlukan untuk berjaga-jaga jika diperlukan. Sisipkan sedikit reward jika bisa mencapai goal budget yang diinginkan.

Tetap Jaga Kesehatan Jiwa dan Raga
Salah satu investasi terbaik adalah investasi kesehatan. Saat membuat budget plan sebisa mungkin tetap mempertimbangkan kesehatan.

Jangan melulu makan indomie dan nugget.

Olahraga juga dirutinkan untuk menjaga hormon endorphin tetap mengucur bahagia. Jangan lupa untuk mengatur waktu ibadah dan istirahat agar pikiran tetap sehat dan tenang.

Jika jiwa dan raga sehat akan menurunkan risiko mengeluarkan uang untuk pengobatan. Jadi dompet tidak was-was.

  • Upgrade Diri

Jika anda belum tahu cara menambah penghasilan di situasi seperti ini. Perdalam hardskill adalah jawabannya. Ikutlah workshop online, belajar bahasa asing, marketing, storytelling, bikin kue, belajar Alquran, planning bisnis atau apapun itu. Lalu buatlah karya apapun yang Anda bisa. Jika itu karya yang menghasilkan uang maka selamat kepada Anda yang beruntung. Namun jangan berharap karya yang Anda buat bisa menghasilkan sekarang. Akan tetapi ini adalah bagian dari investasi yang mungkin anda gunakan selepas masa sulit ini.

Beberapa dari kawan-kawan yang bisa bikin masker handmade, hand sanitizer –pun yang sekarang booming bisa jadi bukan hal spontan yang mereka bisa ciptakan. Mungkin dari pengalaman mereka belajar sebelumnya. Jadi key learning-nya jangan berhenti belajar. In the long run, insyaAllah kalian akan memetik hasilnya. Kenapa sih penulis pakai banyak istilah Inggris? Karena penulis masih belajar hahaha.

  • Sedekah dalam Bentuk Apapun

Saya pernah mendengar hadist yang intinya orang miskin iri dengan orang kaya karena orang kaya bisa sedekah dengan hartanya.

“Sebagian Sahabat Rasul Pernah Bertanya Kepada Nabi SAW, ‘Wahai Rasulullah, Orang-Orang Kaya Pergi Dengan Pahala Yang Banyak. Mereka Shalat Seperti Kami Shalat, Mereka Juga Puasa Sebagaimana Kami Puasa, Mereka Juga Bersedekah Dengan Kelebihan Harta Mereka (Sementara Kami Tidak Bisa Melakukannya).’ Rasulullah Berkata, ‘Bukankah Allah Telah Menjadikan Bagi Kalian Jalan Untuk Bersedekah? Sesunggunya Setiap Tasbih Adalah Sedekah, Setiap Takbir Sedekah, Setiap Tahmid Sedekah, Setiap Tahlil Sedekah, Setiap Amar Makruf Nahi Munkar Juga Sedekah, Bahkan Kemaluan Kalian Sedekah.’ Sahabat Bertanya, ‘Apakah Berpahala Bila Kami Menyalurkan Syahwat?’ Rasulullah Menjawab, ‘Bagaimana Pendapat Kalian Bila Hal Itu Disalurkan Pada Jalan Yang Haram, Bukankah Berdosa? Demikian Pula Bila Disalurkan Pada Jalan Halal, Maka Akan Mendapatkan Pahala,’” (HR. Muslim)

Nah. Jadi amar makruf nahi mungkar adalah sedekah juga. Amar makruf nahi munkar artinya mengajak berbuat baik dan mencegah hal yang mungkar. Jadi sedekah ini menjadi sarana mengalirkan kebaikan bagi orang kaya ataupun orang yang tidak mampu. Musim korona ini banyak yang donasi gotong royong membantu yang kurang mampu dan membutuhkan. Jika kalian belum mampu untuk donasi luangkanlah sedikit demi sedikit. Jika belum mampu sedekah 10 ribu rupiah, sedekahlah 1000 rupiah. Itu lebih baik dibanding tidak sedekah. Sekarang banyak cara untuk sedekah online tanpa nilai minimal secara anonim jadi jangan ragu untuk sedekah sesering mungkin. Dan jangan lupa ingatkan kebaikan untuk rekan kita dan orang-orang sekitar kita karena itu bagian juga dari sedekah.

Ingatkan orang-orang untuk #StayAtHome -pun bagian dari sedekah

Jadilah bagian dari siklus kebaikan yang tanpa ujung. Semoga kebaikan terus mengalir untuk orang-orang baik :D.

Semoga artikel di atas bermanfaat.

Salam

@djs.finance

Categories
Uncategorized

Summary : Promoting Tax Compliance in Kosovo with Behavioral Insights

Executive Summary

As in many countries, tax collection is a development challenge in Kosovo. Kosovo is one of the poorest and youngest countries in Europe in terms of gross domestic product (GDP) per capita and both demographics and statehood. The lack of an independent monetary policy — given that Kosovo has adopted the euro as the national currency — means that ensuring the sustainability of fiscal policy is critical. However, limited tax revenues hamper the government’s ability to address economic cycles. Between 2011 and 2017, total government revenue amounted to about 14 percent of GDP, below the average of 19 percent among countries in Europe and Central Asia. Unlike other countries, Kosovar government relies on taxes for more than 85 percent of its revenues. Mobilizing tax revenues is therefore critical. The Tax Administration of Kosovo (TAK) requested assistance from the World Bank and the Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) to address this challenge using an evidence-based approach. To this end, the World Bank and GIZ applied behavioral insights to promote tax compliance among specific groups of taxpayers. Three experiments were designed, implemented, and evaluated in 2018 that involved sending behaviorally informed reminders using letters, e-mails, and short messaging service (SMS) messages to various groups of taxpayers to induce timely and honest declarations and payments. The short-term objective of these trials was to increase the number and timeliness of tax declarations. Simple, behaviorally designed messages were effective in inducing tax declaration. Messages helped raise the tax declaration rate by an average of around 3 percentage points during a period of between four and six weeks. Among personal income tax (PIT) declarations, this represents a 59 percent increase in compliance, equivalent to over 200 more annual tax declarations among participants. The likelihood of payment rose in many instances, and no significant difference was found in the amounts of taxes paid. Lessons from the tax experiments in Kosovo highlight the benefits of rigorous impact evaluation and the need to establish processes that help integrate tax collection functions and data systems.

The effectiveness of tax collection efforts is a function of a myriad of factors, many of which are context specific. Establishing a process to test tax collection efforts, learn from them, and adapt systems based on the lessons is at least as important as the impact of the interventions on revenue mobilization, which represents a longer-term goal that itself is a function of changes in declaration behavior. The three experiments conducted in Kosovo generated lessons in two main areas: the quality of information systems and the existing communication infrastructure. Notwithstanding the resources available to the tax administration to reach out to taxpayers and to monitor tax compliance, an inability to locate and contact taxpayers can make or break a tax collection initiative. In other words, a communication campaign to remind taxpayers to declare on time and pay their due taxes will only be effective if taxpayers receive and read the reminders. Hence, the implementation of these tax interventions in Kosovo provides a critical learning experience and capacity-building exercise for policy makers. It is recommended that similar tax collection efforts in Kosovo in the future investigate additional communication channels and populations of interest. The former might involve website- based messaging or phone calls through a call center. The populations of interest might involve unregistered income earners and businesses. Future tax experiments might also learn from the challenges outlined in this report by investing in the design and in the process equally and by relying closely on the results from each trial to test, learn, adapt, and retest.

source:

http://documents.worldbank.org/curated/en/747661551725011887/Promoting-Tax-Compliance-in-Kosovo-with-Behavioral-Insights

Design a site like this with WordPress.com
Get started