Categories
leadership self development

Minimalisme

Awal Mengenal Konsep Minimalisme

Kata yang beberapa kali menggelitik pikiran saya akhir-akhir ini. Mulai dari baca cara merapikan a la Marie Kondo, beberapa kali saya penasaran dengan minimalisme. Sebagai perkenalan konsep minimalisme ini cukup gencar di kalangan warga Jepang.

Hedonisme dan konsumerisme menjadi sorotan gaya hidup yang menjamur di feed-feed media sosial yang cukup melelahkan bagi sebagian orang. Sebagai penawar dari hiruk pikuk likes dan story instagram yang cukup padat perlu suatu hal-hal yang clean dan minimal sehingga pikiran kita mampu bernafas lebih lega.

Minimalisme mencoba menjawab kegalauan sebagian orang tersebut dengan menawarkan kesederhanaan dalam berpenampilan, bersikap, dan berpikir. Mendinginkan jiwa sehingga lebih jernih dalam mengambil keputusan karena tidak bias dengan berbagai urusan yang berlalu lintas di pikiran.

Video ini mungkin memberikan gambaran tentang apa konsep minimalisme tersebut. Namun jangan langsung memberikan penilaian bahwa konsep minimalisme yang saya ceritakan sama plek dengan video ini ya.

Berawal dari video tersebut saya mulai mencari tahu dan mulai menerapkan minimalisme dengan menginventarisasi barang-barang yang saya miliki di kontrakan. Saya cek untuk baju saya butuh cukup berapa, untuk piring, gelas dan sebagainya. Beberapa kaos kantor saya sumbangkan meskipun cukup saya suka karena memang jarang saya pakai. Kemudian saya dan istripun mulai berkomitmen untuk tidak memajang aksesoris di rumah kontrakan. Kebetulan istri juga sepakat dengan konsep minimalisme ini.

Dalam pikiran saya minimalisme dapat diterapkan di berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari.

Minimalisme Barang

Dari sub-heading di atas sudah barang tentu menjelaskan definisi awal minimalisme. Mengurangi barang bukan urusan yang gampang. Perang batin bisa jadi menjadi pertimbangan utama untuk memutuskannya. Coba kalian baca bukunya Marie Kondo deh. Bagi yang belum tahu siapa Marie Kondo coba liat video ini. Marie Kondo menggunakan metode Konmari untuk merapikan seluruh barang-barangnya.

Tips a la Marie Kondo bisa jadi memang harus dipaksakan. Membereskan barang bukan hal yang gampang bagi sebagian orang. Di dalam bukunya Marie Kondo barang yang bisa disimpan adalah barang memancarkan kebahagiaan (sparks joy). Hal ini bagi saya tidak berlaku karena bagi saya jika saya menyimpan barang dengan kenangan akan menimbulkan kesedihan jika memang dalam kenangan tersebut terdapat orang yang saya cintai namun sudah meninggal atau sedang jauh. Saya menghindari mendapati momen-momen tersebut. Alhasil barang-barang yang saya miliki sekarang jauh berkurang. Bahkan barang yang tidak saya gunakan sebulan terakhir saya singkirkan meskipun barang tersebut memang berguna tapi nyatanya tidak saya gunakan dan menghabiskan tempat. Beberapa barang saya simpan karena jika saya membeli baru memang harganya cukup mahal misal perkakas pertukangan, meskipun jarang saya gunakan namun cukup berguna jika saya membutuhkannya atau tetangga membutuhkan. Selebihnya saya berusaha tidak memiliki hobi mengkoleksi barang.

Konsekuensi Minimalisme Barang

Dengan membiasakan memiliki barang yang sedikit tentu saja memiliki beberapa konsekuensi positif. Ruangan rumah jadi lebih lega tidak berpikir untuk menghias rumah. Mungkin kesannya monoton ya tapi karena sudah terbiasa saya tidak terlalu memikirkannya karena rumah juga masih mengontrak. Untuk urusan pakaian juga sama. Saya memang orangnya tidak fashionable jadi memang tidak suka belanja. Ketika traveling atau pergi ke pusat perbelanjaan fokus saya dan istri membelikan barang-barang yang dibutuhkan Saudara untuk digunakan mereka. Keterikatan emosi dengan barang sedikit demi sedikit berkurang sehingga pikiran kita lebih lepas, lebih memikirkan hal yang lebih bermanfaat lebih jujur dan objektif dalam menilai sesuatu tanpa harus melibatkan sentimen pribadi dari suatu hal.

Minimalisme Informasi=Minimalisme Medsos

Pernah ngga merasakan suatu momen saat kepala pusing karena kelamaan lihat handphone. Ribuan pesan masuk dan arus informasi yang deras membuat kepala kita merasa jenuh dan akhirnya bingung mau berbuat apa untuk meredakan kejenuhan tersebut. Beberapa fenomena terkait hal itu yang saya highlight antara lain :

Fear of Missing Out

Ketakutan ngga update dengan peristiwa yang sedang hits sehingga terus menerus melihat medsos atau takut ketinggalan mengikuti tren terbaru.

Burn Out

Adalah istilah psikologi yang digunakan untuk menggambarkan perasaan kegagalan dan kelesuan akibat tuntutan yang terlalu membebankan tenaga dan kemampuan seseorang. Sederhananya terlalu ngoyo akhirnya merasa gagal dan capek pikiran.

Banyaknya arus informasi kadang membuat saya berpikir untuk menyederhanakan media sosial yang saya miliki. Mulai delete akun Facebook, Instagram, Twitter dan semuanya. Akhirnya aktivitas media sosial saya tumpah ke Youtube. Dengan mengurangi aktivitas media sosial membuat pikiran kita lebih lega tanpa harus memikirkan hal-hal yang seharusnya bukan menjadi fokus kita misalnya baca curhatan teman, debat politik, pesan berantai yang berisi hoax yang disebar senior namun kita segan untuk menegur dan sebagainya. Beberapa tahun terakhir WhatsApp menjadi primadona tempat berkumpul suatu komunitas. Coba kalian hitung berapa grup WhatsApp yang dimiliki dan berapa waktu yang diperlukan untuk membaca masing-masing grupnya. Nah saya pun akhirnya memutuskan untuk mute semua grup WhatsApp. Andaikata grup yang sangat penting saya membatasi hanya 2 grup saja yang bisa kirim notifikasi. Batasi hati untuk melihat aktivitas teman melalui medsos karena bagi saya yang 60% introvert 40% ekstrovert ini cukup membantu menjaga pikiran ini tetap waras.

Minimalisme Beban Kerja

Untuk mengurangi beban pikiran saya juga ingin menyelesaikan pekerjaan kantor secepat mungkin dengan tanpa mengabaikan kualitas pekerjaan. Ketika ada permasalahan atau challenge, biasakan untuk mencatat action plan yang akan dilakukan tanpa menundanya. Setiap pekerjaan yang tertunda akan menimbulkan beban pikiran di kemudian hari jadi biasakan untuk mencatat progressnya. Minimal dengan progress yang tercatat bisa menyenangkan pikiran kita. Cara meminimalkan kita berpikir terlalu berat adalah dengan sharing dengan teman-teman yang paham dengan pekerjaan. Dengan sharing kita bisa menemukan solusi lebih cepat tanpa menunggu kepala kita sakit tanpa ada jalan keluar dari masalah tersebut. Biasakan juga membantu rekan kerja dalam memecahkan masalah akan melatih kita menemukan learning key point dari suatu permasalahan. Selalu mencari hikmah dari permasalahan bagian dari pembelajaran yang tepat dan cepat sehingga kita tak perlu mengalami proses yang panjang untuk memecahkan suatu masalah. Minimalisme dalam bekerja adalah bagian dari proses kita menyederhanakan pekerjaan sesuatu dengan tips dan hacks yang cerdas.

Minimalisme Batin=Keeping Positive Vibes

Nobody is perfect

Itulah yang selalu kita tekan kan ketika pemikiran negatif menghinggapi kepala kita. Setiap orang selalu memiliki permasalahan bahkan orang yang kita anggap cukup perfect. Begitu pula dengan barang ataupun sistem dan keadaan. Setiap orang ingin diuntungkan dengan situasi apapun dan menimbulkan benturan kepentingan apabila keadaan berjalan tidak sempurna. Tingginya ekspektasi dan kurangnya memahami realita menimbulkan ketidakpuasan pada diri kita akan hal-hal yang kita hadapi sehari-hari. Sebagai ASN dan pelayan masyarakat anda mungkin pernah dikritik, dikomplain dan kadang menyakiti hati kita. Atau sebaliknya mungkin ekspektasi kita ke masyarakat terlalu tinggi. Kita berharap masyarakat paham aturan, tertib, terliterasi dengan baik namun tidak semuanya sama. Begitu pula dengan rekan kerja kita, tetangga kita, pemimpin kita, saudara kita dan sebagainya. Menempatkan kita sebagai orang yang memahami realitas akan menjadikan kita lebih bijak dalam berekspektasi dan menuntut hak kepentingan kita. Pemahaman ini membuat kita lebih berpikir strategis dan logis tentang cara mencari jalan keluar atau berkompromi tanpa menyinggung hati lawan bicara kita. Marah menghabiskan energi dan sesuatu yang spekulatif karena tujuan kita belum tentu tercapai namun bisa jadi menimbulkan luka jiwa yang tak berkesudahan. Minimalkan energi untuk pikiran dengan berikan jiwa asupan energi positif. Kadang kita perlu menyendiri ataupun sharing dengan orang yang kita percayai. Minimalkan beban pikiran kita sedini mungkin. Kadang kita perlu memberi jeda pada suatu masalah agar api kemarahan semakin kecil. Kadang kita perlu diam tanpa harus mengambil tindakan karena kekhilafan sering terjadi tanpa harus menunggu maaf dari kita.

Minimalisme Waktu

Waktu merupakan hal duniawi yang paling mahal yang kita miliki. Setiap orang mendapat jatah waktu yang sama. Yang membedakan adalah aktifitas yang kita lakukan untuk mengisi waktu tersebut. Minimalisme waktu adalah dampak dari minimalisme-minimalisme di atas. Menikmati waktu yang ada dengan lebih realistis, tanpa beban pikiran dan keterikatan emosi pada benda yang cukup menyita waktu kita. Dengan mempraktekkan minimalisme-minimalisme di atas tentunya akan banyak waktu luang yang bisa kita manfaatkan.

Investasi Waktu

Investasi waktu merupakan proses menghabiskan waktu dengan kegiatan bermanfaat bagi tujuan kita. Pada umumnya tujuan masing-masing orang adalah bahagia. Bahagia duniawi dan akhirati bagi orang Islam tentunya. Menikmati waktu dengan bahagia menjadi poin penting di sini dengan tanpa mengubah konsep minimalisme yang sudah disebutkan di atas. Untuk menyederhanakan konsep investasi waktu ini. Saya bagi menjadi beberapa kategori: investasi diri sendiri, investasi keluarga, investasi sosial.

Investasi Waktu untuk Diri Sendiri

Terus meluangkan waktu untuk upgrade diri adalah investasi waktu terbaik. Upgrade jiwa dan raga secara seimbang dan selaras sangat diperlukan saat ini. Upgrade jiwa dengan belajar banyak hal baik softskill dan hardskill, membangun koneksi, jangan lupa entertainment dan ibadah juga perlu. Upgrade raga dengan menjaga makan, istirahat, dan olahraga yang cukup menjadi hal yang harus dipaksa. Semoga saya bisa melakukan semuanya dengan baik.

Investasi Waktu untuk Keluarga

Dengan intensitas komunikasi yang diperingkas dengan konsep minimalisme sangat berguna sekali untuk meningkatkan komunikasi dengan istri dan anak. Keluarga adalah salah satu sumber kebahagiaan. Bersama mereka akan menjadi investasi waktu terbaik yang bisa kita pilih apalagi kita telah menerapkan berbagai minimalisme sehingga alokasi waktu dengan keluarga menjadi optimal dan lebih berkualitas.

Investasi Waktu untuk Sosial

Setelah memenuhi investasi waktu untuk diri sendiri dan keluarga mudah-mudahan membentuk pribadi kita menjadi lebih baik sehingga bisa menularkan semangat minimalisme dengan lingkungan sosial kita. Minimalisme barang diharapkan mengurangi jumlah sampah dan emisi global karena produksi barang yang melebihi kebutuhan. Minimalisme pikiran dan pekerjaan akan meningkatkan produktifitas dan positive vibes di lingkungan kerja kita.

Kesimpulan

Tetap diingat segala bentuk minimalisme hendaknya dilakukan sesuai batas kewajaran dan pastinya kita bisa mengukur batasnya sesuai dengan norma dan etika yang ada. Minimalisme tidak mendorong orang semakin pelit atau anti sosial tapi menjadikan orang lebih bijak memanfaatkan waktu dan pikirannya untuk hal yang lebih bermanfaat.

Categories
finance leadership tax

Pajak Ekonomi Digital dan Intellectual Property

Bersumber dari artikel DDTC berikut ini . Saya salinkan di bawah.

Nah, artikel di atas intinya masih terdapat beberapa kendala yang menjadikan kesepakatan ketentuan pajak digital tidak dapat diselesaikan secara cepat karena berpotensi menimbulkan konflik. Sementara potential loss jumlah pajak yang ditimbulkan akibat tidak adanya regulasi akan semakin besar.

Potensi Ekonomi Kreatif dan Intelectual Property Indonesia

Potensi ekonomi digital akan semakin luas mengingat perkembangan teknologi yang semakin pesat di antaranya isu big data, artificial intelligence, blockchain yang membuat disrupsi semakin tidak terkendali. Dari segi ekonomi kreatif. Indonesia memiliki Badan Ekonomi Kreatif yang memiliki misi sebagai berikut:

  1. Menyatukan seluruh aset dan potensi kreatif Indonesia untuk mencapai ekonomi kreatif yang mandiri.
  2. Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri kreatif.
  3. Mendorong inovasi di bidang kreatif yang memiliki nilai tambah dan daya saing di dunia internasional.
  4. Membuka wawasan dan apresiasi masyarakat terhadap segala aspek yang berhubungan dengan ekonomi kreatif.
  5. Membangun kesadaran dan apresiasi terhadap hak kekayaan intelektual, termasuk perlindungan hukum terhadap hak cipta.
  6. Merancang dan melaksanakan strategi yang spesifik untuk menempatkan Indonesia dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Semoga dengan adanya BEKRAF mampu mendorong SDM Indonesia membuat banyak intelectual property yang bermanfaat bagi seluruh dunia serta menjadi sumber pendapatan negara demi kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bisa dibayangkan industri film Indonesia mampu menjadi bagian dari industri hiburan internasional sehingga hasil karya anak bangsa membawa kemanfaatan bersifat ekonomi bagi Indonesia. Demikian pula hasil paten dan riset yang membawa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki Indonesia. Kita selalu memimpikan Indonesia sebagai produsen karya-karya intelektual bukan sebagai konsumen belaka. Di industri mobile game, China cukup mendominasi dengan beberapa judul mobile game yang akrab dimainkan teman-teman kita. Mungkin ke depannya pemerintah perlu memberikan insentif perpajakan dalam hal mewujudkan iklim yang kondusif dalam penciptaan karya intelektual dari segala bidang.

Diperlukan SDM yang Mumpuni

Menuju era ekspor intelectual property, maka diperlukan SDM yang benar-benar capable di bidang masing-masing sehingga mampu menciptakan inovasi dan pemecahan masalah praktis di masing-masing bidang. Roadmap/Timeline/Milestone SDM Unggul yang dibuat pemerintah semoga mampu di-eksekusi dengan baik. Insentif pajak pun memberikan angin segar mendukung kebijakan swasta dalam mengembangkan SDM di Indonesia.

Perkembangan Intellectual Property di China

Wah, saya jadi pengen baca revolusi intelectual property di China yang menurut saya sangat pesat. Kapan-kapan saya update artikel ini dan melanjutkan pembahasan intelectual property ini.

Dari artikel Bisnis.com, ternyata perkembangan intellectual property mereka cukup pesat lho.

Bisnis.com,  JAKARTA— World Intelectual Property Organization (WIPO) merilis data pengarsipan paten, merek dan desain industri pada 2016. Hasilnya, China menduduki peringkat teratas untuk setiap pengajuan aplikasi kekayaan intelektual.

Dalam World Intellectual Property Indicators 2017, disebutkan pengajuan paten di China tahun lalu mencapai 1,3 juta pendaftaran pada 2016, atau naik 21,5% dari tahun sebelumnya.  Capaian pengajuan paten di China, berkontribusi sebesar 42,6%, dari total aplikasi paten yang diajukan pada 2016.

Urutan kedua ada Amerika Serikat sebanyak 606.571 aplikasi paten, sementara Jepang mengikuti sebanyak 318.381 aplikasi paten.

Untuk merek yang total pengarsipannya sebanyak 9,75 juta, permohonan merek di China diajukan sebanyak 3,69 juta aplikasi, jauh unggul di atas Amerika Serikat (545.587) dan Jepang (451,320). Permohonan merek yang diajukan pada 2016, bertumbuh sebesar 13,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pengajuan desain industri juga mengalami pertumbuhan, tercatat sebanyak 1,24 juta aplikasi desain industri diajukan pada 2016 di seluruh dunia. Kembali, China menempati urutan pertama dengan jumlah arsip sebanyak 650.344 aplikasi, di atas Eropa sebanyak 104.522 aplikasi dan Korea Selatan sebanyak 69.120 aplikasi.



Director General WIPO Francis Gurry mengatakan data terbaru yang diterbitkan menunjukkan pertumbuhan terbesar dalam satu dekade terakhir. Dia mengakui, bahwa kontribusi terbesar datang dari China.

“China semakin berkontribusi dan memimpin dalam inovasi dan pemasaran global,” tuturnya, dalam keterangan resmi, Kamis (7/12/2017).

Hanya saja, dalam pengarsipan KI di luar negara asal, Amerika Serikat tercatat paling banyak mengajukan aplikasi paten, diikuti China, Jepang, Jerman dan Koreas Selatan. Gurry mengatakan pengarsipan ke luar negeri mencerminkan internasionalisasi perlindungan KI dan keinginan mengkomersilkan teknologi di pasar global.

“Para pemohon paten mencari perlindungan internasional, yang cenderung mengharapkan nilai yang lebih tinggi dengan tetap mempertimbangan biaya paten terkait substansi,” tambahnya.

Sementara itu, Dalam catatan WIPO, Indonesia tahun lalu menempati urutan ke 112 untuk pengajuan aplikasi paten, urutan 24 untuk merek dan 28 untuk desain industri. Disebutkan juga, jika dilihat dari pengajuan lokal di setiap negara asal, pengajuan merek Indonesia menempati posisi 22 dan desain industri 24.

Selain itu, untuk pertama kalinya, WIPO mengumpulkan data untuk produk indikasi geografis (IG). Disebutkan pengajuan IG datang dari 54 otoritas nasional dengan melaporkan 42.500 GI telah terdaftar.

Tidak hanya bicara jumlah aplikasi yang masuk, WIPO juga mengumpulkan data mengenai dimensi kinerja operasional otoritas KI, termasuk ukuran tenaga kerja, waktu pengajuan aplikasi dan hasil ujian paten.

Gurry menambahkan data akan menunjukkan kapasitas pemeriksa yang ada di kantor KI semakin berkembang seiring banyaknya aplikasi yang masuk.

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (AKHKI) Cita Citrawinta mengatakan besarnya aplikasi KI yang masuk, memengaruhi tanggung jawab untuk menerbitkan permohonan.

“Sumber daya manusia perlu diperkuat, dan tentu infrastruktur lainnya,” katanya.

Menurutnya, besarnya kemauan pemilik mengajukan permohonan hak kekayaan intelektualnya, merupakan bentuk nyata bahwa KI menjadi bagian tidak terpisahkan dari investasi jangka panjang. 

Dari artikel tersebut, awareness kita tentang intellectual property memang perlu ditingkatkan. Diharapkan Indonesia tidak hanya mengekspor barang komoditas namun juga karya-karya intellectual yang terbukti mampu meningkatkan leverage perekonomian suatu negara.

Potensi perpajakan dari intellectual property memang sangat besar di masa yang akan datang. Sebagaimana yang saya ketahui mengenai intellectual property ini terdapat aspek pajak atas royalty yaitu PPh Pasal 23 sebesar 15%, PPh Pasal 26 sesuai tarif P3B atau 20% dan PPN atas Barang Kena Pajak (BKP) Tidak Berwujud 10%, Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud. Cukup besar persentasenya namun saya kurang tahu rata-rata tarif negara G-20 berapa untuk PPh atas royalty.

Jurnal terkait Intellectual Property dan Pertumbuhan Ekonomi Suatu Negara

Untuk mengurangi rasa penasaran lebih lanjut saya cari jurnal terkait peran intellectual property terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Inilah linknya.

Laik, Kaushik. (2005). Role of intellectual property in economic growth. Journal of Intellectual Property Rights. 10. 465-473.

https://www.researchgate.net/publication/228468542_Role_of_intellectual_property_in_economic_growth

Abstract

In spite of substantial economic growth of nations, there still persist conflicting views among developed and developing countries in retaining a strong intellectual property regime in the domestic realms. For instance, the debate on competition laws and feasibility of having monopolistic tendencies as emphasized by the jurisprudence of IP laws, still appears to haunt the think-tank of developing nations like India. The fact that developing countries vary widely in the quality and capacity of their scientific and technical infrastructures, poses a major hurdle to the extent of applicability of IP, particularly, patent laws, to each of them. Having a uniform IP standard across the globe undoubtedly seems to be an easy solution, but the issue certainly involves numerous micro and macro considerations which need to be taken heed of. The aim of the present paper is to investigate the impact of a strong IP regime in the economic development of a nation. As well known and beyond any doubts, IP protection is an important determinant of economic growth. It helps entrepreneurs to recover costs of their innovative expenses. Undoubtedly, IP systems must be developed so as to bring in socio-economic well-being. However, the incentives for the same need to be analysed critically, as the duplicity of stands of various parties to the WTO and TRIPS are clearly evident. The fact that strong IPR actually provoke IPR infringements in many developing nations also seems to be an issue which needs to be analysed while comprehending the need for the former. The trade-off between unfair competition laws and IP also assumes importance of high magnitude and hence needs to be particularly emphasized. The development of intellectual property rights (IPR) over the years has invariably brought an upsurge in the outlook of nations towards the aspect of societal and cultural growth, this being said with the preliminary assumption that economic growth has been the most affected realm and that it requires a separate spectrum of analysis. The paper thus attempts to comprehend the immensely significant role played by IP as a regime in itself and economic growth of a State, with special emphasis being laid on certain economic theories to assert the point canvassed. IP has inextricable nexus with issues like, inter alia, traditional knowledge, foreign investments, geographical indications and competition laws. An understanding of such a nexus with all the intertwined issues and the resultant cumulative economic growth of the society would require a Herculean effort as each of the issues would merit a dissertation paper in its own right. However, the objective of the present paper is to highlight the unparalleled effect of IP on the nation’s economy, taking aid of the issues above stated. The importance of intellectual property protection to develop the scientific and technological capacity of developing countries and benefits derived from the enhanced level of growth 1 has also now become a matter of common understanding. The era of globalization has ushered in a new revolution in this regard and the present century seems to stand at the threshold of the so-called knowledge economy 2 Needless to say that along with innovative realms 3 where IP is a major contributor, its importance can also be traced in the quarters of folklore including the arts of folktales, folk-poetry, folksongs and instrumental music, folk dances, plays and artistic forms of rituals, all contributing to the enhancement of the overall societal prosperity, not merely at its economic quarters 4 . These facts hence, inter alia reassert the initial assertion that IPR do have an incredible and unmatched effect on the overall growth of the society. The economic impact is only one facet of the story.

Makalah tersebut mengambil studi di India. Nah, dari abstrak makalah di atas dapat diketahui bahwa perlindungan Intellectual Property menjadi sangat penting dengan mempertimbangkan undang-undang persaingan (competition laws), pengetahuan tradisional, investasi asing, indikasi geografis. Bahkan perlu disertasi khusus untuk membahas peran masing-masing faktor. Namun saya belum berhasil register ke Researchgate dan mengunduh versi full text-nya. Dalam kalimat terakhir pada abstrak apabila diterjemahkan menyebutkan “Fakta-fakta ini karenanya, antara lain menegaskan kembali pernyataan awal bahwa HAKI memang memiliki efek yang luar biasa dan tak tertandingi pada pertumbuhan masyarakat secara keseluruhan. Dampak ekonomi hanya satu sisi dari cerita.” Kesimpulan yang saya dapat dari paper di atas memang menegaskan pentingnya perlindungan Intellectual Property secara umum terutama yang dilakukan negara berkembang dan negara maju karena hal ini berpengaruh ke dua jenis negara tersebut. Dampak intellectual property memang memiliki efek luar biasa pada pertumbuhan pada masyarakat jadi tidak hanya dampak ekonomi saja.

Peran pemerintah pada intellectual property memang harus dievaluasi. Sejauh mana perhatian pemerintah meningkatkan kualitas dan kuantitas intellectual property yang dimiliki oleh negara kita dan bagaimana mekanisme perlindungannya serta bagaimana mendayagunakan intellectual property tersebut agar tidak hanya menjadi bentuk pengaruh ekonomi yang cenderung monopolistik namun juga berperan secara sosioekonomi. Ini selanjutnya sedang saya cari tahu lebih lanjut.

to be continued..

Categories
business finance leadership

Mengapa banyak CEO berasal dari India

Beberapa kali dalam hatiku bertanya Mengapa film-film India itu norak. Adegan nari-nari lah, adegan orang kaya lah, adegan fighting-nya lebay lah. But why most of CEOs are coming from India?

Tentu saja hal ini nggak related to film Bollywood. Nah, Pagi ini aku kebetulan membaca artikel di Liputan6.com .

Inilah daftar-daftar perusahaan dengan CEOnya yang berasal dari India :

• Shantanu Narayen, Adobe

• Sundar Pichai, Alphabet, the parent company of Google

• Satya Narayana Nadella, Microsoft

• Rajeev Suri, Nokia

• Punit Renjen, Deloitte

• Vasant “Vas” Narasimhan, Novartis

• Ajaypal “Ajay” Singh Banga, Mastercard

• Ivan Manuel Menezes, Diageo

• Niraj S. Shah, Wayfair

• Sanjay Mehrotra, Micron

• George Kurian, NetApp

• Nikesh Arora, Palo Alto Networks

• Dinesh C. Paliwal, Harman International Industries

Perusahaan di atas yang belum kalian kenali. Tapi, Siapa yang nggak tahu Google, Microsoft, Adobe,bahkan Nokia. CEO mereka India lho. Kira-kira, apa sih kelebihan mereka?

1. Keterbukaan Terhadap Perubahan

Setiap perusahaan bergulat dengan beberapa bentuk gangguan. India, sebuah negara lebih dari 1 miliar populasinya, dengan puluhan bahasa dan infrastruktur yang tidak merata.

Orang-orang India banyak hidup dengan kondisi ketidakpastian, termasuk Apakah air akan muncul dari keran di pagi hari, karena jika tidak mereka tidak dapat menggosok gigi di pagi hari.

Ini menciptakan kekuatan di luar kendali dan kebutuhan untuk bersikap tekun.

Hal ini memungkinkan inovasi dan kesabaran dalam pekerjaan mereka. Mereka juga menikmati proses untuk hidup berdampingan dengan keberagaman dengan sesama dalam birokrasi perusahaan.

Nah di sini Aku mau melihat ada kesamaan dengan Indonesia di mana orang-orang India itu sangat terbiasa dengan ketidakpastian mirip ya sama keadaan di Indonesia. Bahkan mungkin kalau lebih ekstrim di Indonesia ketidakpastiannya jauh lebih tinggi. Kalau kalian tinggal di luar jawa pasti sering menjumpai mati listrik, PAM mati, penerbangan delay, chat nggak dibalas, lho. Jadi, kesimpulannya dalam hal ini (ketidakpastian) Indonesia tidak kalah dengan India.

2. Pendidikan

Imigran India adalah salah satu yang paling berpendidikan di Amerika Serikat;

Menurut Pew, di 2016, sekitar 77,5% orang India memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi–pangsa tertinggi dari setiap negara asal teratas–dibandingkan dengan 31,6% dari Amerika kelahiran asli.

Pada tingkat pascasarjana selama beberapa dekade terakhir, mahasiswa asing telah memenuhi kesenjangan di Amerika. Bahkan warga asli lebih sedikit mempelajari ilmu komputer dan rekayasa di sekolah tinggi di sana.

Ini adalah keterampilan yang didambakan bukan hanya oleh Big Tech, namun perusahaan lain yang terkait.

Nah, masalah pendidikan ini mungkin Jadi PR yang besar bagi pemerintah Indonesia di mana sebagian besar mungkin teman-teman kita belum bisa bersekolah di jenjang yang lebih tinggi. Bahkan di jenjang S1 banyak lulusannya yang belum bekerja. Namun yang dikatakan artikel di atas adalah tentang imigran di Amerika yang berasal dari India memang sangat dominan di level pendidikan tertentu. Apa perlu kita mengirim banyak warga kita untuk sekolah lagi di Amerika (meniru langkah India). Bisa jadi itu hal yang bisa kita lakukan tapi apakah itu efektif untuk dilakukan sekarang ini. Ada anggapan bahwa pendidikan terbaik memang ada di luar negeri, enggak hanya di Amerika. Pemerintah sendiri sudah menyediakan berbagai macam beasiswa untuk mengirim warganya sekolah di sana. Sebagai contoh beasiswa LPDP yang diberikan kepada calon pemimpin-pemimpin Indonesia di masa depan. Semoga saja hal ini menjadi langkah awal dari capaian yang besar bagi Indonesia.

3. Memprediksi Segala Hal

Kemampuan untuk memprediksi keadaan dan kebutuhan pasar adalah sifat yang diperlukan dalam seorang pemimpin.

Orang-orang India terutama, berkat dihadapi dengan data atau grafik yang kerap berubah-ubah, mungkin tidak sadar, mereka terbiasa menyusun plan B dalam berbisnis. Hal ini bisa diambil dari contoh kasus air bersih yang jarang keluar untuk kebutuhan sehari-hari mereka.

Ini adalah masukan yang positif bagi pemimpin di Indonesia. Di Indonesia menghadapi ketidakpastian sering dilakukan dengan cara yang tidak fair. Saya nggak akan sebutkan disini cara-cara tidak fair seperti apa yang digunakan untuk melindungi zona nyaman pengusaha atau pemimpin kita. Di era disrupsi sekarang ini, perubahan budaya menuntut setiap orang mampu bertahan lama di suatu industri. Kepercayaan menjadi mahal disini dan integritas menjadi pertaruhannya. Cara-cara yang tidak fair lama kelamaan menjadi basi. Strategi penuh inovasi dan terukur menjadi kunci untuk bertahan dari persaingan sekarang ini. Segala sesuatu tentang novelty akan membuka banyak peluang. Banyak yang tumbuh namun akan banyak yang mati.

4. Kemampuan Matematika

Bukan untuk menyamakan stereotip bahwa orang India itu baik di akademik. Tapi di sini adalah cara lain untuk melihat itu: ketika Anda tumbuh di sebuah negara berpopulasi 1 miliar orang, semuanya bermuara pada peluang.

Kemungkinan persaingan untuk dapat masuk ke perguruan tinggi, sekolah pembibitan, sekolah tata bahasa; untuk memaksimalkan Skor dalam rangka untuk memajukan terbilang besar.

Dibutuhkan kemampuan matematika yang di atas rata-rata, karena mata pelajaran ini yang dibutuhkan di setiap tes. Sejalan juga dengan banyaknya mahasiswa asal India yang mengambil studi di luar negeri untuk mata pelajaran ini.

Ini inspiratif sekali sih. Kemampuan matematika rata-rata pelajar Indonesia masih kurang. Kemampuan matematika dan logika memang perlu untuk problem solving dan critical thinking.

5. Menghargai Keragaman

Asia menjadi contoh yang baik di perusahaan teknologi, tetapi sangat kurang terwakili di tingkat eksekutif, menurut setidaknya satu studi dari lima perusahaan teknologi.

Dan penelitian yang lebih baru menunjukkan mereka mengakhiri praktek diskriminatif, membawa upah mereka untuk paritas dan memperlakukan mereka dengan hormat.

Kebanyakan orang India berutang kedatangan mereka di Pantai AS untuk Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan 1965, legislasi era hak sipil yang menghapus kuota dan diskriminasi rasial secara de facto.

Kalau ini membahas bahwa aturan di Amerika condong kekeberagaman sehingga setiap bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk berkompetisi menjadi yang terbaik dan menjadi pemimpin di bidangnya.

Well, inilah setidaknya faktor-faktor yang menentukan orang India bisa jadi CEO di perusahaan multinasional. Adalah tanggung jawab yang besar untuk menjadi pemimpin.

Noblesse Oblige

Noblesse oblige pertama kali dipopulerkan didalam novel Le Lys Dans La Vallée (The Lily of the Valley) yang terbit di Perancis pada tahun 1835. Ungkapan ini diartikan oleh Wikipedia sebagai nobility obliges yang mengandung makna bahwa terdapat tanggung jawab yang harus dipikul dibalik setiap kejayaan, kekuatan, atau prestise yang didapat.

Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 4789

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ. فَالإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ. أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ.

Dari Abdullah, Nabi ﷺ bersabda:

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya.
Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya.
Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya.
Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.

Sekian pembahasan untuk topik hari ini.

Stay Cool Stay Minimalist

Design a site like this with WordPress.com
Get started