Categories
finance leadership tax

Pajak Ekonomi Digital dan Intellectual Property

Bersumber dari artikel DDTC berikut ini . Saya salinkan di bawah.

Nah, artikel di atas intinya masih terdapat beberapa kendala yang menjadikan kesepakatan ketentuan pajak digital tidak dapat diselesaikan secara cepat karena berpotensi menimbulkan konflik. Sementara potential loss jumlah pajak yang ditimbulkan akibat tidak adanya regulasi akan semakin besar.

Potensi Ekonomi Kreatif dan Intelectual Property Indonesia

Potensi ekonomi digital akan semakin luas mengingat perkembangan teknologi yang semakin pesat di antaranya isu big data, artificial intelligence, blockchain yang membuat disrupsi semakin tidak terkendali. Dari segi ekonomi kreatif. Indonesia memiliki Badan Ekonomi Kreatif yang memiliki misi sebagai berikut:

  1. Menyatukan seluruh aset dan potensi kreatif Indonesia untuk mencapai ekonomi kreatif yang mandiri.
  2. Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri kreatif.
  3. Mendorong inovasi di bidang kreatif yang memiliki nilai tambah dan daya saing di dunia internasional.
  4. Membuka wawasan dan apresiasi masyarakat terhadap segala aspek yang berhubungan dengan ekonomi kreatif.
  5. Membangun kesadaran dan apresiasi terhadap hak kekayaan intelektual, termasuk perlindungan hukum terhadap hak cipta.
  6. Merancang dan melaksanakan strategi yang spesifik untuk menempatkan Indonesia dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Semoga dengan adanya BEKRAF mampu mendorong SDM Indonesia membuat banyak intelectual property yang bermanfaat bagi seluruh dunia serta menjadi sumber pendapatan negara demi kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bisa dibayangkan industri film Indonesia mampu menjadi bagian dari industri hiburan internasional sehingga hasil karya anak bangsa membawa kemanfaatan bersifat ekonomi bagi Indonesia. Demikian pula hasil paten dan riset yang membawa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki Indonesia. Kita selalu memimpikan Indonesia sebagai produsen karya-karya intelektual bukan sebagai konsumen belaka. Di industri mobile game, China cukup mendominasi dengan beberapa judul mobile game yang akrab dimainkan teman-teman kita. Mungkin ke depannya pemerintah perlu memberikan insentif perpajakan dalam hal mewujudkan iklim yang kondusif dalam penciptaan karya intelektual dari segala bidang.

Diperlukan SDM yang Mumpuni

Menuju era ekspor intelectual property, maka diperlukan SDM yang benar-benar capable di bidang masing-masing sehingga mampu menciptakan inovasi dan pemecahan masalah praktis di masing-masing bidang. Roadmap/Timeline/Milestone SDM Unggul yang dibuat pemerintah semoga mampu di-eksekusi dengan baik. Insentif pajak pun memberikan angin segar mendukung kebijakan swasta dalam mengembangkan SDM di Indonesia.

Perkembangan Intellectual Property di China

Wah, saya jadi pengen baca revolusi intelectual property di China yang menurut saya sangat pesat. Kapan-kapan saya update artikel ini dan melanjutkan pembahasan intelectual property ini.

Dari artikel Bisnis.com, ternyata perkembangan intellectual property mereka cukup pesat lho.

Bisnis.com,  JAKARTA— World Intelectual Property Organization (WIPO) merilis data pengarsipan paten, merek dan desain industri pada 2016. Hasilnya, China menduduki peringkat teratas untuk setiap pengajuan aplikasi kekayaan intelektual.

Dalam World Intellectual Property Indicators 2017, disebutkan pengajuan paten di China tahun lalu mencapai 1,3 juta pendaftaran pada 2016, atau naik 21,5% dari tahun sebelumnya.  Capaian pengajuan paten di China, berkontribusi sebesar 42,6%, dari total aplikasi paten yang diajukan pada 2016.

Urutan kedua ada Amerika Serikat sebanyak 606.571 aplikasi paten, sementara Jepang mengikuti sebanyak 318.381 aplikasi paten.

Untuk merek yang total pengarsipannya sebanyak 9,75 juta, permohonan merek di China diajukan sebanyak 3,69 juta aplikasi, jauh unggul di atas Amerika Serikat (545.587) dan Jepang (451,320). Permohonan merek yang diajukan pada 2016, bertumbuh sebesar 13,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pengajuan desain industri juga mengalami pertumbuhan, tercatat sebanyak 1,24 juta aplikasi desain industri diajukan pada 2016 di seluruh dunia. Kembali, China menempati urutan pertama dengan jumlah arsip sebanyak 650.344 aplikasi, di atas Eropa sebanyak 104.522 aplikasi dan Korea Selatan sebanyak 69.120 aplikasi.



Director General WIPO Francis Gurry mengatakan data terbaru yang diterbitkan menunjukkan pertumbuhan terbesar dalam satu dekade terakhir. Dia mengakui, bahwa kontribusi terbesar datang dari China.

“China semakin berkontribusi dan memimpin dalam inovasi dan pemasaran global,” tuturnya, dalam keterangan resmi, Kamis (7/12/2017).

Hanya saja, dalam pengarsipan KI di luar negara asal, Amerika Serikat tercatat paling banyak mengajukan aplikasi paten, diikuti China, Jepang, Jerman dan Koreas Selatan. Gurry mengatakan pengarsipan ke luar negeri mencerminkan internasionalisasi perlindungan KI dan keinginan mengkomersilkan teknologi di pasar global.

“Para pemohon paten mencari perlindungan internasional, yang cenderung mengharapkan nilai yang lebih tinggi dengan tetap mempertimbangan biaya paten terkait substansi,” tambahnya.

Sementara itu, Dalam catatan WIPO, Indonesia tahun lalu menempati urutan ke 112 untuk pengajuan aplikasi paten, urutan 24 untuk merek dan 28 untuk desain industri. Disebutkan juga, jika dilihat dari pengajuan lokal di setiap negara asal, pengajuan merek Indonesia menempati posisi 22 dan desain industri 24.

Selain itu, untuk pertama kalinya, WIPO mengumpulkan data untuk produk indikasi geografis (IG). Disebutkan pengajuan IG datang dari 54 otoritas nasional dengan melaporkan 42.500 GI telah terdaftar.

Tidak hanya bicara jumlah aplikasi yang masuk, WIPO juga mengumpulkan data mengenai dimensi kinerja operasional otoritas KI, termasuk ukuran tenaga kerja, waktu pengajuan aplikasi dan hasil ujian paten.

Gurry menambahkan data akan menunjukkan kapasitas pemeriksa yang ada di kantor KI semakin berkembang seiring banyaknya aplikasi yang masuk.

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (AKHKI) Cita Citrawinta mengatakan besarnya aplikasi KI yang masuk, memengaruhi tanggung jawab untuk menerbitkan permohonan.

“Sumber daya manusia perlu diperkuat, dan tentu infrastruktur lainnya,” katanya.

Menurutnya, besarnya kemauan pemilik mengajukan permohonan hak kekayaan intelektualnya, merupakan bentuk nyata bahwa KI menjadi bagian tidak terpisahkan dari investasi jangka panjang. 

Dari artikel tersebut, awareness kita tentang intellectual property memang perlu ditingkatkan. Diharapkan Indonesia tidak hanya mengekspor barang komoditas namun juga karya-karya intellectual yang terbukti mampu meningkatkan leverage perekonomian suatu negara.

Potensi perpajakan dari intellectual property memang sangat besar di masa yang akan datang. Sebagaimana yang saya ketahui mengenai intellectual property ini terdapat aspek pajak atas royalty yaitu PPh Pasal 23 sebesar 15%, PPh Pasal 26 sesuai tarif P3B atau 20% dan PPN atas Barang Kena Pajak (BKP) Tidak Berwujud 10%, Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud. Cukup besar persentasenya namun saya kurang tahu rata-rata tarif negara G-20 berapa untuk PPh atas royalty.

Jurnal terkait Intellectual Property dan Pertumbuhan Ekonomi Suatu Negara

Untuk mengurangi rasa penasaran lebih lanjut saya cari jurnal terkait peran intellectual property terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Inilah linknya.

Laik, Kaushik. (2005). Role of intellectual property in economic growth. Journal of Intellectual Property Rights. 10. 465-473.

https://www.researchgate.net/publication/228468542_Role_of_intellectual_property_in_economic_growth

Abstract

In spite of substantial economic growth of nations, there still persist conflicting views among developed and developing countries in retaining a strong intellectual property regime in the domestic realms. For instance, the debate on competition laws and feasibility of having monopolistic tendencies as emphasized by the jurisprudence of IP laws, still appears to haunt the think-tank of developing nations like India. The fact that developing countries vary widely in the quality and capacity of their scientific and technical infrastructures, poses a major hurdle to the extent of applicability of IP, particularly, patent laws, to each of them. Having a uniform IP standard across the globe undoubtedly seems to be an easy solution, but the issue certainly involves numerous micro and macro considerations which need to be taken heed of. The aim of the present paper is to investigate the impact of a strong IP regime in the economic development of a nation. As well known and beyond any doubts, IP protection is an important determinant of economic growth. It helps entrepreneurs to recover costs of their innovative expenses. Undoubtedly, IP systems must be developed so as to bring in socio-economic well-being. However, the incentives for the same need to be analysed critically, as the duplicity of stands of various parties to the WTO and TRIPS are clearly evident. The fact that strong IPR actually provoke IPR infringements in many developing nations also seems to be an issue which needs to be analysed while comprehending the need for the former. The trade-off between unfair competition laws and IP also assumes importance of high magnitude and hence needs to be particularly emphasized. The development of intellectual property rights (IPR) over the years has invariably brought an upsurge in the outlook of nations towards the aspect of societal and cultural growth, this being said with the preliminary assumption that economic growth has been the most affected realm and that it requires a separate spectrum of analysis. The paper thus attempts to comprehend the immensely significant role played by IP as a regime in itself and economic growth of a State, with special emphasis being laid on certain economic theories to assert the point canvassed. IP has inextricable nexus with issues like, inter alia, traditional knowledge, foreign investments, geographical indications and competition laws. An understanding of such a nexus with all the intertwined issues and the resultant cumulative economic growth of the society would require a Herculean effort as each of the issues would merit a dissertation paper in its own right. However, the objective of the present paper is to highlight the unparalleled effect of IP on the nation’s economy, taking aid of the issues above stated. The importance of intellectual property protection to develop the scientific and technological capacity of developing countries and benefits derived from the enhanced level of growth 1 has also now become a matter of common understanding. The era of globalization has ushered in a new revolution in this regard and the present century seems to stand at the threshold of the so-called knowledge economy 2 Needless to say that along with innovative realms 3 where IP is a major contributor, its importance can also be traced in the quarters of folklore including the arts of folktales, folk-poetry, folksongs and instrumental music, folk dances, plays and artistic forms of rituals, all contributing to the enhancement of the overall societal prosperity, not merely at its economic quarters 4 . These facts hence, inter alia reassert the initial assertion that IPR do have an incredible and unmatched effect on the overall growth of the society. The economic impact is only one facet of the story.

Makalah tersebut mengambil studi di India. Nah, dari abstrak makalah di atas dapat diketahui bahwa perlindungan Intellectual Property menjadi sangat penting dengan mempertimbangkan undang-undang persaingan (competition laws), pengetahuan tradisional, investasi asing, indikasi geografis. Bahkan perlu disertasi khusus untuk membahas peran masing-masing faktor. Namun saya belum berhasil register ke Researchgate dan mengunduh versi full text-nya. Dalam kalimat terakhir pada abstrak apabila diterjemahkan menyebutkan “Fakta-fakta ini karenanya, antara lain menegaskan kembali pernyataan awal bahwa HAKI memang memiliki efek yang luar biasa dan tak tertandingi pada pertumbuhan masyarakat secara keseluruhan. Dampak ekonomi hanya satu sisi dari cerita.” Kesimpulan yang saya dapat dari paper di atas memang menegaskan pentingnya perlindungan Intellectual Property secara umum terutama yang dilakukan negara berkembang dan negara maju karena hal ini berpengaruh ke dua jenis negara tersebut. Dampak intellectual property memang memiliki efek luar biasa pada pertumbuhan pada masyarakat jadi tidak hanya dampak ekonomi saja.

Peran pemerintah pada intellectual property memang harus dievaluasi. Sejauh mana perhatian pemerintah meningkatkan kualitas dan kuantitas intellectual property yang dimiliki oleh negara kita dan bagaimana mekanisme perlindungannya serta bagaimana mendayagunakan intellectual property tersebut agar tidak hanya menjadi bentuk pengaruh ekonomi yang cenderung monopolistik namun juga berperan secara sosioekonomi. Ini selanjutnya sedang saya cari tahu lebih lanjut.

to be continued..

Categories
finance riba rumah

Harga Rumah, Riba dan Bagaimana Jalan Tengahnya

latar belakang

Harga rumah menjadi pembahasan serius namun menyenangkan. Apalagi jika dikaitkan dengan gerakan bebas riba yang marak sejalan literasi dakwah membuka mata sebagian umat muslim terkait haramnya kredit melalui bank konvensional. Pembahasan kali ini fokus ke harga rumah di Jadebotabek dan sebatas apa yang saya baca dan saya ketahui.

Anda boleh tidak setuju dengan apa yang saya sampaikan, karena tulisan ini saya buat untuk merefleksikan apa yang saya ketahui tentang harga rumah dan riba, serta apa kesimpulannya mempertimbangkan kedua hal di atas.

Kebingungan milenial sekarang terkait topik tersebut adalah mahalnya harga rumah dan mengetahui bahwa kredit bank konvensional pasti menyebabkan riba yang diharamkan dalam Islam.

Solusi yang saya temukan sejauh ini adalah:

  1. Mencari developer rumah syariah dengan legalitas yang jelas dan reputasi yang bagus.
  2. Bangun sendiri rumah dengan metode Nabung, Bangun, Stop, Ulangi
  3. Membuat komunitas bebas riba dengan mengumpulkan angel investor dalam satu wadah yang dengan visi dan risiko yang minimal kemudian angel investor tersebut menyediakan pinjaman untuk pembiayaan pembelian rumah tanpa riba.
  4. Meningkatkan penghasilan dengan mulai menyediakan waktu untuk meningkatkan skill dan mulai mencari tambahan penghasilan sehingga bisa nabung lebih banyak untuk beli rumah.

Kemudian solusi apa yang diberikan pemerintah sejauh ini untuk mendukung hal tersebut. Sampai dengan saat ini pemerintah masih memiliki pedoman bahwa pinjaman ke bank syariah tidak riba. Jadi pemerintah memberikan kebijakan LTV atau loan to value yang cukup terjangkau agar setiap warga negara dapat membeli rumah. Untuk warga negara berpendapatan rendah maka ada opsi rumah subsidi.

Next, insyaAllah saya akan coba menuliskan perjuangan saya untuk mewujudkan rumah pertama saya. Saat ini saya masih berjuang 😀

perjuangan

Perjuangan dalam mewujudkan rumah pertama saya masih panjang. Kenaikan harga properti yang cukup cepat di Jadebotabek membuat saya sempat ingin membeli rumah saat masih awal kerja. Tahun 2012, tersebut gaji saya sebenarnya cukup untuk mengajukan KPR, namun keinginan itu kandas semenjak tahu apa itu riba dan sebagainya. Ditambah perlunya sering pulang kampung karena ayah sedang sakit stroke dan harapan saya dapat pindah tugas ke kota kelahiran menjadikan saya mengurungkan niat untuk membeli rumah di Bekasi, kota tempat saya bekerja. Harapan untuk pindah ke kota kelahiran membuat saya membeli sebidang tanah di kota kelahiran.

Keadaan yang saya hadapi saat ini adalah sulitnya untuk pindah tugas ke kota kelahiran, membuat saya memutuskan untuk tinggal di Jadebotabek. Ditambah alhamdulillah saya menerima beasiswa dari LPDP dan akan melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia di Depok, membuat saya ingin bertempat tinggal di Depok. Nasehat dari paman dan bibi saya juga menguatkan saya untuk membeli rumah di Depok. Sebagai pengganti orang tua saya yang sudah meninggal, mereka memberikan penekanan bahwa belilah rumah meskipun kecil. Mulailah saya melakukan riset kecil-kecilan.

Kondisi Geografis Depok

Kota Depok terdiri dari 11 kecamatan, pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 1.809.120 jiwa dengan luas wilayah 200,29 km² dan sebaran penduduk 9.032 jiwa/km².

Jalan yang sering dilanda kemacetan Sabtu Minggu adalah Jalan Raya Margonda, Jalan Raya Siliwangi, Jalan Raya Kartini, Jalan Raya Dewi Sartika, dan Jalan Raya Sawangan.

to be continued…

Categories
finance tax

Is The Annual Tax Return Submission Campaign in Plaza Pondok Gede Effective?

The Background of The Campaign

Nowadays, taxpayers compliance becomes the main issue in Directorate General of Taxes. Submitting annual tax returns (SPT Tahunan) is such a troublesome responsibility for some taxpayers. It happens almost every year. Regarding taxpayers compliance as one of Pondok Gede Small Tax Office’s Key Performance Indicators, it needs some strategies to increase either the level of tax return submission or taxpayers payment compliance. One of those strategies is carrying out an annual tax return submission campaign in the center of businesses.

Intention of The Campaign

The campaign carried out with the intention of providing an understanding of the importance of submitting tax returns.

The Campaign Implementation

The campaign team was divided into two groups. One operates in Plaza Pondok Gede and another one operates in Komsen, Jatiasih. Each group is responsible for distributing flyers to all business units in every area. I joined the Plaza Pondok Gede campaign group.

The Plaza Pondok Gede campaign group started to distribute flyers at 10 a.m. The group was divided into four sections and each section responsible for one building area. Each section consists of two or three persons. My section consists of me as Account Representative of Extensification and Counseling Unit and Mr. Wahyudi as Head of Supervision and Consultation Unit I. We walked along the shops in Transmart Building and distributed flyers to them. Most of them didn’t understand about income tax or tax return submission. They just received the flyers and the key chain souvenirs without immediately knowing what the income tax is all about. Even some of them refused to accept the flyers and told us that they didn’t want to pay any taxes because their business still small and not running well. We finished our job at 12 a.m. and went back to the office then.

Conclusions and Suggestions

Answering a question from the title of this article, I think this kind of campaign is not effective in consequence of several factors both from taxpayers and tax authorities. Some of these factors include the lack of understanding of taxation knowledge, the lack of awareness of tax compliance, the difficulty of communicating with the taxpayers.

To tackle the problems mentioned above, I find out that tax authority (Directorate General of Taxes) should do something about it. First, Directorate General of Taxes should provide tax-related information through electronic media such as television, radio, and digital social media, for example, Instagram, Youtube, and Facebook to reach more taxpayers. They probably ought to spend more money on online advertisements or alternatively using organic traffics from regular feed or posting without paid promotions. Second, the approach of promotion should be more attractive and touching. As an example, creating an event that catches taxpayers attention such as aerobics, music events, kids events, etc. Even though, it’s hard to find the right event for taxpayers in kind of situation like in the market. Another example, the promotion should give information about public benefits and facilities used by the community for free is financed from taxpayers. Furthermore, the public benefit and facilities are used by neither poor nor disable people as well. This approach of promotion ought to touch the heart of taxpayers and might change their minds about what the taxes are for.

Categories
business finance leadership

Mengapa banyak CEO berasal dari India

Beberapa kali dalam hatiku bertanya Mengapa film-film India itu norak. Adegan nari-nari lah, adegan orang kaya lah, adegan fighting-nya lebay lah. But why most of CEOs are coming from India?

Tentu saja hal ini nggak related to film Bollywood. Nah, Pagi ini aku kebetulan membaca artikel di Liputan6.com .

Inilah daftar-daftar perusahaan dengan CEOnya yang berasal dari India :

• Shantanu Narayen, Adobe

• Sundar Pichai, Alphabet, the parent company of Google

• Satya Narayana Nadella, Microsoft

• Rajeev Suri, Nokia

• Punit Renjen, Deloitte

• Vasant “Vas” Narasimhan, Novartis

• Ajaypal “Ajay” Singh Banga, Mastercard

• Ivan Manuel Menezes, Diageo

• Niraj S. Shah, Wayfair

• Sanjay Mehrotra, Micron

• George Kurian, NetApp

• Nikesh Arora, Palo Alto Networks

• Dinesh C. Paliwal, Harman International Industries

Perusahaan di atas yang belum kalian kenali. Tapi, Siapa yang nggak tahu Google, Microsoft, Adobe,bahkan Nokia. CEO mereka India lho. Kira-kira, apa sih kelebihan mereka?

1. Keterbukaan Terhadap Perubahan

Setiap perusahaan bergulat dengan beberapa bentuk gangguan. India, sebuah negara lebih dari 1 miliar populasinya, dengan puluhan bahasa dan infrastruktur yang tidak merata.

Orang-orang India banyak hidup dengan kondisi ketidakpastian, termasuk Apakah air akan muncul dari keran di pagi hari, karena jika tidak mereka tidak dapat menggosok gigi di pagi hari.

Ini menciptakan kekuatan di luar kendali dan kebutuhan untuk bersikap tekun.

Hal ini memungkinkan inovasi dan kesabaran dalam pekerjaan mereka. Mereka juga menikmati proses untuk hidup berdampingan dengan keberagaman dengan sesama dalam birokrasi perusahaan.

Nah di sini Aku mau melihat ada kesamaan dengan Indonesia di mana orang-orang India itu sangat terbiasa dengan ketidakpastian mirip ya sama keadaan di Indonesia. Bahkan mungkin kalau lebih ekstrim di Indonesia ketidakpastiannya jauh lebih tinggi. Kalau kalian tinggal di luar jawa pasti sering menjumpai mati listrik, PAM mati, penerbangan delay, chat nggak dibalas, lho. Jadi, kesimpulannya dalam hal ini (ketidakpastian) Indonesia tidak kalah dengan India.

2. Pendidikan

Imigran India adalah salah satu yang paling berpendidikan di Amerika Serikat;

Menurut Pew, di 2016, sekitar 77,5% orang India memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi–pangsa tertinggi dari setiap negara asal teratas–dibandingkan dengan 31,6% dari Amerika kelahiran asli.

Pada tingkat pascasarjana selama beberapa dekade terakhir, mahasiswa asing telah memenuhi kesenjangan di Amerika. Bahkan warga asli lebih sedikit mempelajari ilmu komputer dan rekayasa di sekolah tinggi di sana.

Ini adalah keterampilan yang didambakan bukan hanya oleh Big Tech, namun perusahaan lain yang terkait.

Nah, masalah pendidikan ini mungkin Jadi PR yang besar bagi pemerintah Indonesia di mana sebagian besar mungkin teman-teman kita belum bisa bersekolah di jenjang yang lebih tinggi. Bahkan di jenjang S1 banyak lulusannya yang belum bekerja. Namun yang dikatakan artikel di atas adalah tentang imigran di Amerika yang berasal dari India memang sangat dominan di level pendidikan tertentu. Apa perlu kita mengirim banyak warga kita untuk sekolah lagi di Amerika (meniru langkah India). Bisa jadi itu hal yang bisa kita lakukan tapi apakah itu efektif untuk dilakukan sekarang ini. Ada anggapan bahwa pendidikan terbaik memang ada di luar negeri, enggak hanya di Amerika. Pemerintah sendiri sudah menyediakan berbagai macam beasiswa untuk mengirim warganya sekolah di sana. Sebagai contoh beasiswa LPDP yang diberikan kepada calon pemimpin-pemimpin Indonesia di masa depan. Semoga saja hal ini menjadi langkah awal dari capaian yang besar bagi Indonesia.

3. Memprediksi Segala Hal

Kemampuan untuk memprediksi keadaan dan kebutuhan pasar adalah sifat yang diperlukan dalam seorang pemimpin.

Orang-orang India terutama, berkat dihadapi dengan data atau grafik yang kerap berubah-ubah, mungkin tidak sadar, mereka terbiasa menyusun plan B dalam berbisnis. Hal ini bisa diambil dari contoh kasus air bersih yang jarang keluar untuk kebutuhan sehari-hari mereka.

Ini adalah masukan yang positif bagi pemimpin di Indonesia. Di Indonesia menghadapi ketidakpastian sering dilakukan dengan cara yang tidak fair. Saya nggak akan sebutkan disini cara-cara tidak fair seperti apa yang digunakan untuk melindungi zona nyaman pengusaha atau pemimpin kita. Di era disrupsi sekarang ini, perubahan budaya menuntut setiap orang mampu bertahan lama di suatu industri. Kepercayaan menjadi mahal disini dan integritas menjadi pertaruhannya. Cara-cara yang tidak fair lama kelamaan menjadi basi. Strategi penuh inovasi dan terukur menjadi kunci untuk bertahan dari persaingan sekarang ini. Segala sesuatu tentang novelty akan membuka banyak peluang. Banyak yang tumbuh namun akan banyak yang mati.

4. Kemampuan Matematika

Bukan untuk menyamakan stereotip bahwa orang India itu baik di akademik. Tapi di sini adalah cara lain untuk melihat itu: ketika Anda tumbuh di sebuah negara berpopulasi 1 miliar orang, semuanya bermuara pada peluang.

Kemungkinan persaingan untuk dapat masuk ke perguruan tinggi, sekolah pembibitan, sekolah tata bahasa; untuk memaksimalkan Skor dalam rangka untuk memajukan terbilang besar.

Dibutuhkan kemampuan matematika yang di atas rata-rata, karena mata pelajaran ini yang dibutuhkan di setiap tes. Sejalan juga dengan banyaknya mahasiswa asal India yang mengambil studi di luar negeri untuk mata pelajaran ini.

Ini inspiratif sekali sih. Kemampuan matematika rata-rata pelajar Indonesia masih kurang. Kemampuan matematika dan logika memang perlu untuk problem solving dan critical thinking.

5. Menghargai Keragaman

Asia menjadi contoh yang baik di perusahaan teknologi, tetapi sangat kurang terwakili di tingkat eksekutif, menurut setidaknya satu studi dari lima perusahaan teknologi.

Dan penelitian yang lebih baru menunjukkan mereka mengakhiri praktek diskriminatif, membawa upah mereka untuk paritas dan memperlakukan mereka dengan hormat.

Kebanyakan orang India berutang kedatangan mereka di Pantai AS untuk Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan 1965, legislasi era hak sipil yang menghapus kuota dan diskriminasi rasial secara de facto.

Kalau ini membahas bahwa aturan di Amerika condong kekeberagaman sehingga setiap bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk berkompetisi menjadi yang terbaik dan menjadi pemimpin di bidangnya.

Well, inilah setidaknya faktor-faktor yang menentukan orang India bisa jadi CEO di perusahaan multinasional. Adalah tanggung jawab yang besar untuk menjadi pemimpin.

Noblesse Oblige

Noblesse oblige pertama kali dipopulerkan didalam novel Le Lys Dans La Vallée (The Lily of the Valley) yang terbit di Perancis pada tahun 1835. Ungkapan ini diartikan oleh Wikipedia sebagai nobility obliges yang mengandung makna bahwa terdapat tanggung jawab yang harus dipikul dibalik setiap kejayaan, kekuatan, atau prestise yang didapat.

Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 4789

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ. فَالإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ. أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ.

Dari Abdullah, Nabi ﷺ bersabda:

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya.
Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya.
Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya.
Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.

Sekian pembahasan untuk topik hari ini.

Stay Cool Stay Minimalist

Categories
finance tax

Membaca Majalah APBNKita Edisi Januari 2020

Click to access apbn-kita-januari-2020.pdf

Silakan dibaca. Enjoy.

Beberapa poin penting terkait APBN 2019 yang saya highlight dari Majalah APBNKita

  • Realisasi sementara pendapatan negara dan hibah masih terjaga meskipun mengalami imbas perlambatan ekonomi global
  • Realisasi pajak masih ditunjang dari PPh Nonmigas yang tumbuh 3.78% dan PPN meski tumbuh minus 0,81%. Yang mantab sektor Jasa Keuangan dan sektor Transportasi dan Pergudangan tumbuh cukup baik
  • Penerimaan Kepabeanan dan Cukai tumbuh 3,8%. FYI, Cukai utamanya dari CHT up 7,8% (Cukai Hasil Tembakau) dan MMEA up 14,36% (Minuman Mengandung Etil Alkohol). Sedangkan Bea Masuk (96,27%), Bea Keluar (78,91%) dampak dari perekonomian global.
  • Realisasi sementara PNBP tumbuh negatif -1% karena penurunan PNBP SDA 14,7% imbas dari penurunan harga minyak mentah dan lifting minyak bumi. PNBP dari Kekayaan Negara yang Dipisahkan tumbuh 79,1% terutama dari Pendapatan Surplus BI *(Nah ini perlu saya googling dulu apasih Surplus BI)
  • Realisasi sementara Belanja Negara 2019 93,9% up 4,4% compared to 2018. Belanja Bansos tumbuh 34,2% (Nanti kita cari tahu apa itu Bansos) karena kenaikan Program Keluarga Harapan untuk mendukung percepatan pengurangan kemiskinan
  • Realisasi sementara defisit 2,2% dari PDB. Nah, realisasi sementara pembiayaan tumbuh 30,7% yang terdiri dari pembiayaan utang, investasi, dan pembiayaan lainnya. Tujuan pembiayaan apasih? Untuk menutup defisit, sebagai instrumen investasi Pemerintah dalam mengakselerasi pembangunan infra, akses pembiayaan MBR (nah ini saya hafal Masyarakat Berpendapatan Rendah), meningkatkan kualitas SDM Indonesia
  • Realisasi sementara belanja subsidi 90,0%. Buat apa belanja subsidi. Ada subsidi energi (jadi merasa bersalah pakai kalau pakai premium dan gas melon) dan subsidi non energi (subsidi pupuk, public service obligation, kredit program).
  • APBN sebagai instrumen countercyclical dalam menjaga momentum positif pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi-> tercermin pada strategi kebijakan fiskal dalam mendukung pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. TKDD (Transfer ke Daerah dan Dana Desa) realisasinya lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Posisi utang dibawah 30% dari PDB.
  • Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 3,4%

Hikmah saya baca majalah itu, saya jadi lebih paham tentang APBN kita.

Categories
finance

Cara Menghemat Uang Tiap Bulan

Rutinkan Mencatat

Cara untuk menghemat uang belanja bulanan sangat praktis sekarang ini karena banyak aplikasi-aplikasi yang digunakan tinggal kitanya aja lebih rajin untuk mencatat setiap harinya.

Aplikasi Android yang saya gunakan sangat sederhana yaitu Google Keep dan Catatan Keuangan.

Jadi aplikasi ini hanyalah alat bagi kita untuk membantu membentuk kebiasaan mencatat. Setiap hari saya dan istri mencoba mengingat pengeluaran hari itu dan mencatatnya di Google Keep. Nah kalo sempat baru saya rekam lagi di Catatan Keuangan.

Aplikasi Google Keep terbilang sederhana namun powerful. Acapkali saya sering pakai untuk mencatat apa saja dan bisa saya akses melalui website di komputer kantor di keep.google.com. Saking sederhananya untuk mencatat pengeluaran harian biasanya saya cuman menulis tanggal dan nama pengeluaran/pemasukan dan nominal dalam ribuan.

Contoh penulisan

12 Jan- 17 Jan

12 Jan

makan 12

bensin 20

bayar utang 20

dst….

Enaknya menulis pakai Google Keep itu simpel dan intuitif kayak kita punya catatan buku.

Terus kalau ada waktu senggang, catatan tersebut saya pindahkan ke aplikasi Catatan Keuangan. Untuk cara pakainya aplikasi ini nggak usah saya jelaskan ya pasti sudah pada jago.

Evaluasi untuk Membentuk Habit

Kalau sudah rutin mencatat kita bisa evaluasi pengeluaran dan pemasukan kita. Apakah ada yang nggak penting atau mungkin bisa dikurangi. Atau perlu kita menambah pemasukan dan sebagainya.

Dengan kita rutin evaluasi secara nggak langsung akan membentuk habit kita. Evaluasi ini bisa dilakukan mingguan atau bulanan. Suka-suka saja sebenarnya mau tiap hari juga bisa kalau rutin dan rajin.

Yang mantab dari aplikasi Catatan Keuangan adalah kita selain kita mencatat dengan mudah, kita bisa juga melihat diagram pie dari pengeluaran-pengeluaran. Nanti kita bisa cek kategori apa yang over dan kategori apa yang under. Tapi memang beberapa untuk hiburan atau reward sih. Dan ada beberapa pengeluaran yang tidak terduga misalnya untuk iuran-iuran pergaulan, tiba-tiba harus pulang kampung, tiba-tiba harus beli pakaian karena ada event, Kadang hal itu nggak bisa kita hindari. Biasanya kita bisa siasati dengan dana cadangan. Di mana dana cadangan ini kita gunakan untuk hal-hal insidentil. Atau bisa dengan cara geser-menggeser budget. Sebagai contoh minggu ini sudah 2 kali makan di luar untuk menjaga budget tetap sehat ya tentunya ada hal lain yang harus dikorbankan. Pengorbanan ini jangan extreme ya. Kalau disiasati dengan puasa juga boleh asal jangan puasa sebulan penuh tanpa berbuka.

Nah, setelah evaluasi terus menerus setiap bulan, nanti nya bakalan jadi bahasan menarik saat evaluasi tahunan. Pasti seru banget ketika tahu masing-masing pengeluaran setiap kategori. misalnya buat jajan habis sekian tapi buat belanja habis sekian, buat pulang kampung habis sekian. Pasti jadi bahasan seru suami istri wkwkwk.

Prediksi sebelum menyesal

Budgeting duit itu sebenarnya kita menganggarkan sejumlah uang untuk kita pergunakan seefektif dan seefisien mungkin. Dengan rutin mengevaluasi pengeluaran-pengeluaran yang kita lakukan tiap bulan pastinya kita semakin hafal karakter pemborosan yang kita lakukan.

Saking pengennya mencari celah gimana biar hemat biasanya saya memprediksi dulu pengeluaran-pengeluaran besar yang akan terjadi di masa datang. Misalnya buat bayar pajak motor, pajak penghasilan, biaya kontrakan, biaya pulang kampung tahun depan dll. Disitu saya menganggarkan angka sama dengan tahun lalu ditambah penyesuaian. Intinya saya nabung dulu duit untuk kebutuhan yang akan terjadi di masa datang. Jadi saya sudah nabung juga untuk membayar kebutuhan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Jadi pas butuh duit saya sudah siapkan. Jadi bener-bener di mindset kita bahwa duit yang kita pegang ini diprioritaskan untuk kebutuhan masa datang. Cara ini juga bisa dipakai untuk ngasih reward ke diri kita. Jadi secara psikologis pikiran kita nggak akan eman ngeluarin duit karena memang sudah dianggarkan.

Design a site like this with WordPress.com
Get started