Beberapa kali dalam hatiku bertanya Mengapa film-film India itu norak. Adegan nari-nari lah, adegan orang kaya lah, adegan fighting-nya lebay lah. But why most of CEOs are coming from India?
Tentu saja hal ini nggak related to film Bollywood. Nah, Pagi ini aku kebetulan membaca artikel di Liputan6.com .
Inilah daftar-daftar perusahaan dengan CEOnya yang berasal dari India :
• Shantanu Narayen, Adobe
• Sundar Pichai, Alphabet, the parent company of Google
• Satya Narayana Nadella, Microsoft
• Rajeev Suri, Nokia
• Punit Renjen, Deloitte
• Vasant “Vas” Narasimhan, Novartis
• Ajaypal “Ajay” Singh Banga, Mastercard
• Ivan Manuel Menezes, Diageo
• Niraj S. Shah, Wayfair
• Sanjay Mehrotra, Micron
• George Kurian, NetApp
• Nikesh Arora, Palo Alto Networks
• Dinesh C. Paliwal, Harman International Industries
Perusahaan di atas yang belum kalian kenali. Tapi, Siapa yang nggak tahu Google, Microsoft, Adobe,bahkan Nokia. CEO mereka India lho. Kira-kira, apa sih kelebihan mereka?
1. Keterbukaan Terhadap Perubahan
Setiap perusahaan bergulat dengan beberapa bentuk gangguan. India, sebuah negara lebih dari 1 miliar populasinya, dengan puluhan bahasa dan infrastruktur yang tidak merata.
Orang-orang India banyak hidup dengan kondisi ketidakpastian, termasuk Apakah air akan muncul dari keran di pagi hari, karena jika tidak mereka tidak dapat menggosok gigi di pagi hari.
Ini menciptakan kekuatan di luar kendali dan kebutuhan untuk bersikap tekun.
Hal ini memungkinkan inovasi dan kesabaran dalam pekerjaan mereka. Mereka juga menikmati proses untuk hidup berdampingan dengan keberagaman dengan sesama dalam birokrasi perusahaan.
Nah di sini Aku mau melihat ada kesamaan dengan Indonesia di mana orang-orang India itu sangat terbiasa dengan ketidakpastian mirip ya sama keadaan di Indonesia. Bahkan mungkin kalau lebih ekstrim di Indonesia ketidakpastiannya jauh lebih tinggi. Kalau kalian tinggal di luar jawa pasti sering menjumpai mati listrik, PAM mati, penerbangan delay, chat nggak dibalas, lho. Jadi, kesimpulannya dalam hal ini (ketidakpastian) Indonesia tidak kalah dengan India.
2. Pendidikan
Imigran India adalah salah satu yang paling berpendidikan di Amerika Serikat;
Menurut Pew, di 2016, sekitar 77,5% orang India memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi–pangsa tertinggi dari setiap negara asal teratas–dibandingkan dengan 31,6% dari Amerika kelahiran asli.
Pada tingkat pascasarjana selama beberapa dekade terakhir, mahasiswa asing telah memenuhi kesenjangan di Amerika. Bahkan warga asli lebih sedikit mempelajari ilmu komputer dan rekayasa di sekolah tinggi di sana.
Ini adalah keterampilan yang didambakan bukan hanya oleh Big Tech, namun perusahaan lain yang terkait.
Nah, masalah pendidikan ini mungkin Jadi PR yang besar bagi pemerintah Indonesia di mana sebagian besar mungkin teman-teman kita belum bisa bersekolah di jenjang yang lebih tinggi. Bahkan di jenjang S1 banyak lulusannya yang belum bekerja. Namun yang dikatakan artikel di atas adalah tentang imigran di Amerika yang berasal dari India memang sangat dominan di level pendidikan tertentu. Apa perlu kita mengirim banyak warga kita untuk sekolah lagi di Amerika (meniru langkah India). Bisa jadi itu hal yang bisa kita lakukan tapi apakah itu efektif untuk dilakukan sekarang ini. Ada anggapan bahwa pendidikan terbaik memang ada di luar negeri, enggak hanya di Amerika. Pemerintah sendiri sudah menyediakan berbagai macam beasiswa untuk mengirim warganya sekolah di sana. Sebagai contoh beasiswa LPDP yang diberikan kepada calon pemimpin-pemimpin Indonesia di masa depan. Semoga saja hal ini menjadi langkah awal dari capaian yang besar bagi Indonesia.
3. Memprediksi Segala Hal
Kemampuan untuk memprediksi keadaan dan kebutuhan pasar adalah sifat yang diperlukan dalam seorang pemimpin.
Orang-orang India terutama, berkat dihadapi dengan data atau grafik yang kerap berubah-ubah, mungkin tidak sadar, mereka terbiasa menyusun plan B dalam berbisnis. Hal ini bisa diambil dari contoh kasus air bersih yang jarang keluar untuk kebutuhan sehari-hari mereka.
Ini adalah masukan yang positif bagi pemimpin di Indonesia. Di Indonesia menghadapi ketidakpastian sering dilakukan dengan cara yang tidak fair. Saya nggak akan sebutkan disini cara-cara tidak fair seperti apa yang digunakan untuk melindungi zona nyaman pengusaha atau pemimpin kita. Di era disrupsi sekarang ini, perubahan budaya menuntut setiap orang mampu bertahan lama di suatu industri. Kepercayaan menjadi mahal disini dan integritas menjadi pertaruhannya. Cara-cara yang tidak fair lama kelamaan menjadi basi. Strategi penuh inovasi dan terukur menjadi kunci untuk bertahan dari persaingan sekarang ini. Segala sesuatu tentang novelty akan membuka banyak peluang. Banyak yang tumbuh namun akan banyak yang mati.
4. Kemampuan Matematika
Bukan untuk menyamakan stereotip bahwa orang India itu baik di akademik. Tapi di sini adalah cara lain untuk melihat itu: ketika Anda tumbuh di sebuah negara berpopulasi 1 miliar orang, semuanya bermuara pada peluang.
Kemungkinan persaingan untuk dapat masuk ke perguruan tinggi, sekolah pembibitan, sekolah tata bahasa; untuk memaksimalkan Skor dalam rangka untuk memajukan terbilang besar.
Dibutuhkan kemampuan matematika yang di atas rata-rata, karena mata pelajaran ini yang dibutuhkan di setiap tes. Sejalan juga dengan banyaknya mahasiswa asal India yang mengambil studi di luar negeri untuk mata pelajaran ini.
Ini inspiratif sekali sih. Kemampuan matematika rata-rata pelajar Indonesia masih kurang. Kemampuan matematika dan logika memang perlu untuk problem solving dan critical thinking.
5. Menghargai Keragaman
Asia menjadi contoh yang baik di perusahaan teknologi, tetapi sangat kurang terwakili di tingkat eksekutif, menurut setidaknya satu studi dari lima perusahaan teknologi.
Dan penelitian yang lebih baru menunjukkan mereka mengakhiri praktek diskriminatif, membawa upah mereka untuk paritas dan memperlakukan mereka dengan hormat.
Kebanyakan orang India berutang kedatangan mereka di Pantai AS untuk Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan 1965, legislasi era hak sipil yang menghapus kuota dan diskriminasi rasial secara de facto.
Kalau ini membahas bahwa aturan di Amerika condong kekeberagaman sehingga setiap bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk berkompetisi menjadi yang terbaik dan menjadi pemimpin di bidangnya.
Well, inilah setidaknya faktor-faktor yang menentukan orang India bisa jadi CEO di perusahaan multinasional. Adalah tanggung jawab yang besar untuk menjadi pemimpin.
Noblesse Oblige
Noblesse oblige pertama kali dipopulerkan didalam novel Le Lys Dans La Vallée (The Lily of the Valley) yang terbit di Perancis pada tahun 1835. Ungkapan ini diartikan oleh Wikipedia sebagai nobility obliges yang mengandung makna bahwa terdapat tanggung jawab yang harus dipikul dibalik setiap kejayaan, kekuatan, atau prestise yang didapat.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ. فَالإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ. أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ.
Dari Abdullah, Nabi ﷺ bersabda:
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.
Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya.
Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya.
Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya.
Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.
Sekian pembahasan untuk topik hari ini.
Stay Cool Stay Minimalist